Iklan

Senin, 28 Februari 2011

Charlie Berharap ST 12 Tidak Bubar

Kabar tak sedap datang dari band yang mengusung genre musik pop melayu, 'ST 12'. Band ini dikabarkan terancam bubar. Saat dikonfirmasi kebenaran kabar tersebut, Charlie sang vokalis hanya meminta doa agar ST 12 tetap exist di belantika musik tanah air. "Jadi gini. Doakan saja agar ST 12 tidak jadi bubar," ujar Charlie saat dihubungi, Minggu (27/2/2011).
Menurut Charlie memang kondisi di tubuh ST 12 sedang ada masalah. Namun Charlie tidak mau menceritakan detail apa akar permasalahannya. Dan lagi-lagi Charlie hanya berharap agar ST 12 tidak bubar.
"Mungkin karena kesibukan masing-masing. Jadi kita jarang bertemu. Pokoknya doakan saja agar ST 12 tidak bubar," paparnya.
Bahkan, keretakan di tubuh ST 12 sangat kentara sekali ketika mereka yang baru saja manggung di luar kota. Pasalnya, para personel yang sudah janjian akan pulang bareng dengan menggunakan pesawat Garuda, tiba-tiba harus pulang dengan pesawat yang berbeda pada Minggu (27/2) sore.
"Semustinya kami pulang bareng dari Padang naik Garuda. Tapi entah kenapa akhirnya misah-misah seperti ini. Saya naik Air Asia, pepeng Garuda. Sedangkan Pepep saya nggak tahu naik apa," tutur Charlie.
Sementara itu, Pepeng, sang gitaris yang ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Minggu (27/2/2011) berusaha menghindar dari awak media. "Ntar yah gua ngerokok dulu," ujarnya lalu menghilang begitu saja.
Kabar bubarnya ST 12, diakui Charlie sudah diketahui oleh para STsetia, penggemar ST 12. "Memang sempat menjadi perdebatan juga di facebook bahkan STsetia menyayangkan kalau ST 12 benar-benar bubar. Dan mereka ingin membuat cap darah agar ST 12 tidak bubar," tukas Charlie. (Deva)

Minggu, 27 Februari 2011

Sumber Peradaban Dunia Berasal dari Indonesia

Teori ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer, seperti memutarbalikkan sejarah yang sudah ada. Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara.

Hal itu disampaikan Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul 'Eden in The East' di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis 28 Oktober 2010.

Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sundaland atau Indonesia.

Apa buktinya? "Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia," kata Oppenheimer dalam diskusi yang juga dihadiri Jimly Asshiddiqie.

Lulusan fakultas kedokteran Oxford University melalui bukunya mengubah paradigma yang ada selama ini, bahwa peradaban paling awal adalah berasal dari daerah Barat. Perjalanan yang dilakukannya dimulai dengan komentar tanpa sengaja oleh seorang pria tua di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini.

Dari situ dia mendapati kisah pengusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia.

Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang prasejarah. Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan menenggelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya.

Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopotamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam.

"Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya," ujar dia. Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara. Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.

Eden In The East juga mengungkapkan bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua. Buku ini 'membalikkan' sejumlah fakta-fakta yang selama ini diketahui dan dipercaya masyarakat dunia tentang sejarah peradaban manusia.

"Buku ini memang juga ada biasnya. Karena penulis istrinya orang Malaysia sehingga ada perspektif Malaysia," kata Jimly yang hadir dalam acara itu.